Trekking Nanggung ke Gunung Penanggungan, Mojokerto






Sebelas jam kaki ditekuk, pegal, punggung rasanya sudah tegak lurus mirip penggaris 90". Sebelas jam itu kami bertiga, cewek semua, menggelepar di kereta ekonomi Jakarta jurusan Surabaya. Tujuan kami trekking nanggung ke Gunung Penanggungan, Mojokerto Jawa Timur. Kenapa nanggung? Ya, kami hanya ingin naik gunung pagi dan langsung turun sore hari, tidak bermalam di gunung. Saya pikir waktunya memang cukup karena sempat riset kecil-kecilan dengan membaca blog orang, gunung tersebut bisa untuk tektok dalam sehari.

Kenyataannya?


-----------------------------------------------------------------------------------------


Pagi buta, kami bertolak dari Stasiun Pasar Turi menaiki taksi menuju ke kawasan Taman Gunung Anyar, Surabaya untuk mengambil motor yang kami sewa. Kami mendapat tambahan satu personil cowok, kenal di forum komunitas online. Syukurlah, ada tambahan personil yang bisa nyetir sepeda motor. Bahkan dengan baiknya dia nyetir untuk dua hari selama traveling. Kami beruntung karena cowok ini easy going, nggak rewel, palingan diam dan mukanya bingung ketika teman Saya yang namanya Bunga kumat ngomelnya. 


Kami berempat mendapatkan dua motor, dua jas hujan beneran, dua jas hujan abang becak dan empat helm. Semua benda itu langsung kami manfaatkan, iya pagi itu hujan turun. Repot sekali, saya yang awalnya berada di belakang kemudi kesulitan membaca peta melalui smartphone. Maklum, HP saya tidak bisa kena basah, apalagi kena PHP...

Sepeda motor melaju beberapa meter, namun si Wana yang di depan kemudi nampak kesulitan membawa motor. Saya tawarkan untuk mengambil alih stang, ternyata, ampun deh, stang motor cacat! Bawaannya miring ke kiri terus. Saya sampai pegal membawa ni sepeda motor hingga ke Mojokerto, 3 jam. Bahkan di tengah jalan yang berlubang saya hampir terjatuh. Tapi, ketidakberesan sepeda motor ini akan dijadikan alasan si Bunga agar terbebas dari denda saat mengembalikan sepeda motor lho... (ketawa jahat, dikit)




Kami berempat tidak ada yang tahu pasti jalur menuju ke Mojokerto. Saya sebagai navigator sekaligus sopir hanya mengandalkan peta GPS. Sebelumnya Saya sudah diinfokan oleh teman mengenai rute yang benar, namun, di tengah jalan kami terlena dengan plang penunjuk arah Mojokerto yang ternyata jalan itu memutar agak jauh. Hiks. Hasilnya, kami sampai di parkiran jalur Jolotundo 3 jam perjalanan, seharunya dapat ditempuh selama 2 jam saja melalui Pusat Kota Sidoarjo. Ya, jalur Jolotundo kami pilih karena serakan situs sejarah berupa candi-candi memikat hati kami.


Kami terlambat 1 jam dari yang direncanakan, saat kami mulai trekking, cuaca mendung dan rupanya tanah dan semak belukar masih basah bekas hujan. Tak apalah pikir kami, toh hanya 3-4 jam akan sampai di puncak. Pemandangan pertama adalah hutan tropis yang rapat semak dan pepohonan besar yang diselingi ladang. Sekitar sejam berlalu, sampailah di hamparan ladang yang memperlihatkan puncak gunung. Ealaaa, ini mah masih kisaran 5 jam lagi, duh. Si Wana tiba-tiba mengeluh, kesakitan perutnya, hayaaaah, dia datang bulan. Mental kami semua langsung ciut dan membuahkan kesepakatan, jika 2 jam lagi tidak sampai puncak maka kita harus turun. Setuju bingit!



Itu, Puncaknya yang Kiri, Masih Jauh.....


Setengah jam kemudian kami berpapasan dengan rombongan yang tadi bertemu di pintu rimba. Lho, kapan nyalip? Perasaan sepanjang jalur tidak ada satupun orang yang kami temui. Jangan-jangan mereka punya kanuragan yang membuat kami tidak melihatnya? Tapiii... ternyata, mereka melewati jalur "yang benar", kami lah yang mengambil jalur memutar. Guuuuubrak...
Semakin berat menerima kenyataan.

Tanda panah jalur yang menjadi tuntunan membuat kami memutari bukit kecil, untung bukit kecil. Waktu kami terbuang sia-sia sekitar setengah jam. 


Jalur Memutari Bukit



Tidak lama kemudian saya dan teman-teman sampai di situs sejarah berupa serakan candi. Namanya Candi Bayi. Candi ini letaknya persis di sisi kanan jalur, berpagar bambu seadanya. 

Informasi dari komunitas pendaki di Jawa Timur yang Saya temui (Saya lupa namanya), candi di Gunung Penanggungan jumlahnya mencapai 144, mungkin lebih. Ada yang bentuknya berhasil disusun dengan utuh, ada juga yang hanya puing-puing batu. Titiknya tidak semua terletak di jalur pendakian, bahkan ada yang sulit dijangkau. 







Candi Bayi


Sekitar satu jam kemudian, kami sampai di situs candi kedua bernama Candi Putri. Cukup lama beristirahat di sini, berkumpul dengan rombongan lain, saling berbagi makanan dan minuman. Apalagi ada 3 anak kecil yang ikut mendaki dengan ayahnya, tambah senang kami membagi makanan dengannya. Usia anak kecil itu Saya taksir kisaran kelas 1, 4 dan 6 SD. 


Hampir 3 jam berlalu, setelah tanya sana-sini, puncak rupanya masih setengah perjalanan lagi. Kaki kami semakin malas saja melangkah lagi untuk naik. Tekad sudah bulat untuk melangkah turun, meski rombongan lain menawarkan tenda dan sleeping bag jika kami ikut mereka sampai puncak. Tidak, kali ini saya bertekad turun saja, hihi!

Jika diingat-ingat, pemandangan jalur Jolotundo bagus, kita bisa melihat bukit-bukit dan jurang dengan jarak pandang yang luas. Enaknya di jalur ini, ada Petirtaan Jolotundo yang menyediakan kolam-kolam pemandian. Uniknya, kita bisa mandi bersama ikan mas yang banyak dan berukuran jumbo. Sayangnya, air terasa dingin sehingga saya lebih memilih mandi dalam kamar mandi bilas. 



Pemandangan Menuju Candi Putri


Bersama 3 Anak Kecil Tangguh

Candi Putri

Jam 4 sore, kami langsung bertolak menuju Surabaya dengan harapan dapat menempuh jarak 2 jam saja. Berbekal info dari penjaga warung saat sarapan tadi pagi, Saya mencoba mengikuti arahannya agar tidak kembali melewati jalan saat berangkat. Sesekali melirik GPS, akhirnya berhasil juga, kurang dari 2 jam sampai di alun-alun Kota Sidoarjo. 


Entah di mana Saya menyadari kalau jas hujan yang Saya pakai robek di kaki. Jika ada jas hujan yang rusak atau hilang maka kami harus mengganti, begitu kesepakatan dengan rental motor. Di warung makan Soto Lamongan sekitaran alun-alun Sidoarjo inilah, otak cerdas si Bunga jalan. Dia yang akan mengembalikan motornya, agar tidak terkena denda, dia akan komplain duluan karena setir sepeda motor tidak beres hingga membuat kami hampir celaka, dia bilangnya sih jatuh. 

Saya tergelak saat malam harinya setelah Bunga mengembalikan motor, katanya pemilik rental mendengarkan omelannya sambil membentangkan jas hujan dan menjemur di pagar. Sepertinya pemilik rental melihat jas hujannya robek, tapi karena si Bunga ngomel-ngomel mungkin pemilik rental mengurungkan niatnya untuk minta ganti rugi. Yah, cukup adil sih, pemilik rental tidak profesional karena dia memberikan 1 sepeda motor yang berkualitas buruk.




Pendakian Nanggung Cuma Sampai Sini












Komentar

  1. Keren perjalanannya. Mantap nih kalo ditelusuri candinya yng berjumlah 144. Berasa jadi indiana jones. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo untuk susur candi sebanyak itu belum minat, ga sanggup jadi indiana jones wkwkwk

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Savana Cikasur yang Melegenda di Gunung Argopuro (Part 1)

Pengibaran Bendera Sepanjang 1 Kilometer di Gunung Rakutak, Bandung